Sabtu, 13 Desember 2014

(Just) Friend Forever

Hari ini anniversary kami yang pertama, aku yang sama sekali tidak bisa memasak ini pun sudah berjuang semalam suntuk dengan bantuan resep dari Mama akhirnya berhasil membuat beberapa cupcake lucu yang ingin ku hadiahkan untuk Andre, pacarku. Kami janjian di cafe ini pukul 12.00 tapi sudah satu jam aku menunggu Andre belum datang juga, tidak biasanya dia seperti ini. Aku masih terus memandangi arlojiku, mood-ku mulai sedikit berubah. Keceriaan berganti menjadi rasa was-was bercampur kesal. Dia terlambat di hari anniversary pertama kami, apakah dia ada urusan mendadak, apakah dia ingin memberiku kejutan, pikirku menghibur diri.
            Satu jam setengah aku masih bergumul dengan keresahan, hingga sosok yang ku tunggu-tunggu akhirnya tiba di depanku. “Happy anniversary sayang!”, ucapku sambil bercipika-cipiki dengannya. Tidak hanya lega, hatiku sangat bahagia melihatnya, terlupakan dengan segera kekesalan dan keresahanku. Segera kunyalakan lilin-lilin kecil diatas cupcake dan kami meniupnya bersama. Tampak sedikit kejanggalan pada senyum Andre seperti sedang menyembunyikan sesuatu tapi aku tidak tahu apa.
“Kamu tahu nggak, aku buat sendiri loh cupcake-nya hehe”, aku sedikit pamer pada Andre.
“Oh. Aku juga ada kado nih buat kamu.”, balasnya dingin, tanpa antusias sedikitpun.
“Makasih sayang.”, aku sumringah.
Andre hanya tersenyum simpul sesaat dan kembali berekspresi datar.
“Uhm...kamu kenapa sih? Lagi ada masalah?”, aku sedikit khawatir.
Andre masih diam.
“Biasanya kamu selalu cerita sama aku.”
Aku menatap mata Andre, dia mengalihkan pandangannya.
“Ya udah kalo kamu nggak mau cerita, nggak apa-apa kok. Aku nggak akan maksa.”
Kali ini Andre tidak bisa lagi menyembunyikan kegelisahannya.
“Lu-Lucya... Lucya siang ini berangkat ke Amerika, Yes.”, Andre tertunduk.
Kali ini aku yang tak mampu berkata apa-apa, hanya menghela napas panjang.
“Yessa kamu nggak apa-apa?”, Andre mengelus kepalaku.
Di hari anniversary pertama kami, dia justru mengucapkan nama itu.
“Haha, aku? Nggak apa-apa lah haha, kamu nggak bakal nganterin dia?”
“Ehm...”, Andre tampak ragu.
“Aku nggak apa-apa kok, seriusan hehe. Kapan lagi bisa ketemu dia, buruan gih entar dia keburu berangkat, kamu nyesel loh...”, aku memasang senyum selebar yang aku bisa.
Senyum Andre mengembang.
“Makasih sayang! Maaf ya...”, Andre mengecup keningku dan berlalu meninggalkanku.
Jangan tanya bagaimana perasaanku saat ini. Aku sudah cukup kuat menahan air mataku agar tidak jatuh sebelum dia pergi. Apalah arti sapaan “sayang” yang diucapkannya? Apalah arti kecupan yang diberikannya? Apalah arti kado yang dihadiahkannya? Apalah arti hubungan ini? Jika di hatinya bukan namaku yang tertulis, jika hanya Lucya dan masih tetap Lucya yang ada di hatinya. Aku menghela napas panjang, ingin rasanya aku membuang cupcake-cupcake dan kado ini.
***
            Aku mengenal Andre sejak duduk di bangku SMP, saat itu dia adalah tetangga baruku. Aku tidak terlalu tertarik untuk berkenalan dengannya lagi pula kami tidak satu sekolah. Suatu sore aku bermain basket sendirian di lapangan basket komplek perumahan, bolaku terpantul ke arah jalan setapak dan mengenai Andre yang tengah melintas. Andre kemudian masuk ke area lapangan dan mulai men-drible bola, aku berusaha merebutnya dari Andre tapi Andre justru berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Hari semakin gelap, pertandingan dadakan aku dan Andre pun berakhir dengan perkenalan. Sejak saat itu aku dan Andre menjadi teman baik.
            Memasuki SMA aku dan Andre memilih untuk mendaftar ke sekolah yang sama. Meski tidak satu kelas kami selalu pergi dan pulang sekolah bersama. Kami semakin tak terpisahkan sejak Andre masuk klub basket dan aku menjadi manejer tim basket sekolah. Kami selalu berbagi cerita, tidak ada satupun cerita tentang Andre yang tidak ku ketahui tetapi ada satu hal tentangku yang tidak diketahui Andre. Hal itu adalah tentang perasaanku padanya.
            Tahun ketiga kami di SMA aku mengundurkan diri menjadi menejer tim basket sekolah mengingat kesibukanku mengikuti les bimbel, sementara Andre masih aktif di klub basket. Posisiku digantikan oleh anak kelas sebelas, ku dengar dia ketua kelas, juara umum, juara pidato bahasa inggris tingkat nasional, dan seorang model. Namanya Lucya, gadis pujaan para anak cowok di sekolah. Aku yakin super girl seperti dia pasti bisa mengurus tim basket sekolah. Sampai aku tahu Andre jatuh cinta pada Lucya, aku seolah ingin merebut kembali posisi manejer itu darinya. Ah, tapi itu hanya keegoisan sesaatku, mana mungkin aku lakukan itu. Yang namanya patah hati memang tetap menyakitkan meski aku berusaha menerima itu semua. Tapi, apa yang bisa kulakukan selain mendukung sahabatku?
“Eh, lo tahu nggak, gue dengar dari anak-anak cowok katanya Lucya mau ulang tahun loh...”, cetusku pada Andre ketika pulang sekolah.
“Iya, nggak usah lo kasih tahu gue juga udah tahu.”, jawab Andre datar.
“Lo nggak berencana ngasih apa gitu atau ngasih kejutan gitu?”, tanyaku semakin antusias.
“Ya udah sih kalau ulang tahun tinggal ngucapin, heboh banget.”, Andre mulai malas menanggapi.
“Jadi lo benar-benar nggak pengen Lucya tahu ya kalau lo suka sama dia? Lo bakal pendam perasaan ini sampe kapan?”, aku tidak tahu tujuanku bertanya ini, ini pertanyaan yang sama yang berlaku untukku juga. Andre hanya diam, dia memasukkan tangannya kedalam saku jaket dan berjalan sedikit lebih cepat dariku.
“Kita udah mau lulus Ndre, Lucya juga berencana bakal kuliah di luar negeri. Waktu lo nggak banyak. Lo yakin lo nggak bakal nyesal? Ya gue takutnya lo nggak bisa ketemu dia lagi aja.”, hatiku perih mendengar perkataanku sendiri.
Andre berbalik badan, “Lo nggak usah sok tahu dan berhenti ikut campur.”
“Oh, oke haha. Gue cuma mencoba peduli, Ndre. Bye. ”, aku mempercepat langkahku mendahului Andre dengan mata berkaca-kaca.
Satu minggu aku dan Andre tidak saling bicara, tidak pula pergi dan pulang bersama. Sampai aku harus kerumahnya mengambil kartu ujian nasionalku, yang dititipkan ketua kelasku pada Andre. Ah, ketua kelas tidak sabaran, apa susahnya dia menungguku sebentar saja. Tapi aku bersyukur juga karenanya aku dan Andre berbaikan kembali. Selesai ujian nasional sekolah kami mengadakan prom night.
“Woy, lo udah siap belum?”, teriak Andre di depan jendela kamarku.
“Suka-suka gue lah mau udah siap atau belum.”, balasku teriak dari kamar.
“Dih belagu banget sih, buruan woy... lo mau bareng nggak? Mumpung gue bawa mobil nih.”
Jantungku rasanya berdebar-debar, apa ini artinya Andre mengajakku sebagai pasangannya di prom night. Oh God, aku belum siap. Kenapa dia mengajakku sesaat sebelum berangkat? Kenapa tidak sejak jauh-jauh hari? Kenapa dia selalu seenaknya saja?
“Lo ngajak gue jadi pasangan prom night nih ceritanya haha.”, godaku.
“Apaan sih lo, udah nggak usah bawel, buruan. Lama banget sih lo, bete gue selama tiga tahun kerjaan gue nungguin lo mulu disini.”, mendengar repetan Andre aku hanya bisa tertawa.
Sepulang dari prom night, Andre menghentikan mobil di dekat lapangan basket tempat kami pertama berkenalan dulu.
“Kenapa berhenti?”, tanyaku singkat.
Andre mengambil bola basket dari jok belakang.
“Turun!”, perintah Andre semaunya.
“Lo mau ngajak gue main basket? Lo nggak liat gue pakai dress dan high heels?”, aku protes.
“Bodo amat.”, jawabnya sekenanya.
Aku tak pernah berkuasa menolak Andre yang selalu bertingkah semaunya. Kulepaskan high heels-ku dan menerima tantangannya, Andre menanggalkan jas-nya. Aku tidak tahu mengapa tapi sepertinya aku sangat bahagia bermain dengannya malam ini. Lelah bermain, kami mengakhirinya dan berbaring di lapangan basket. Langit malam tampak begitu indah dengan bulan sabitnya dan bintang-bintang yang berkilauan. Aku sangat kaget ketika Andre tiba-tiba menggenggam tanganku.
“Yess, maaf ya...”
“Hah? Maaf buat apa?”
“Maaf karena selama ini gue nggak menyadari kalau lo yang selalu ada buat gue, lo yang paling ngertiin gue.”
Aku tak mampu berkata-kata, aku tidak paham perasaan ini, aku bahagia tapi disisi lain aku menyadari kami hanya berteman, tidak lebih.
“Yess, lo sahabat terbaik gue. Tapi salah nggak kalau gue sayang sama lo? Salah nggak kalo gue pengen kita pacaran?”, Andre menatapku.
Setelah malam itu aku dan Andre resmi pacaran. Tidak terlalu banyak yang berubah dengan status baru kami, mengingat aku dan Andre memang sudah dekat sejak lama. Kami kuliah di kampus yang berbeda, tentunya hal itu mengurangi intensitas pertemuan kami. Tapi hal itu sama sekali tidak membuat hubungan kami berantakan. Hubungan kami baik-baik saja, tidak ada masalah, tidak pula ada orang ketiga, paling hanya pertengkaran kecil dan semua kembali baik-baik saja.
***
            Ku rapikan kembali cupcake-cupcake itu ke dalam kotaknya sambil tak henti-hentinya ku seka air mataku. Karina -adik Andre yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar- pasti suka, pikirku. Aku bergegas menuju kasir untuk membayar makanan dan minuman yang tidak tersentuh itu, yang tadinya sengaja aku pesan untuk Andre juga.
            Sesampainya di komplek rumah, langkahku terhenti di lapangan basket tempat aku dan Andre pertama kali berkenalan dulu, tempat dimana aku dan Andre mengawali hubungan kami. Aku terus bertanya-tanya dalam hati, apakah  pernyataan cinta Andre malam itu sungguh-sungguh?  Apakah Andre menyayangiku sebagai kekasih atau hanya sebagai sahabat? Atau apakah Andre melakukan itu karena menyadari aku diam-diam menyukainya dan sekedar ingin membahagiakanku? Atau apakah karena dia mencoba mengalihkan perasaannya dari Lucya? Apakah Andre masih mencintai Lucya hingga saat ini? Apakah Andre akan mengungkapkan perasaannya pada Lucya sekarang?
Entahlah, aku tidak tahu pasti jawaban dari semua pertanyaan itu. Sebagai orang yang mencintainya hatiku sangat hancur, namun sebagai sahabatnya aku akan turut bahagia jika itu terjadi. Kuseka air mataku untuk terakhir kalinya, lalu bangkit berdiri dari bangku taman yang menghadap ke lapangan basket itu. Setiap cinta akan menemukan jalannya sendiri, tetapi sahabat sejati tak mudah ditemukan, sulit ditinggalkan dan tak kan pernah terganti. Terimakasih Andre telah menjadi sahabat terbaikku.

Kamis, 27 November 2014

Sepenggal Curhat tentang Pasar Seni ITB _ aku, Tuhan, seni dan manusia

euforia kemeriahan Pasar Seni ITB mungkin telah dirasakan warga Bandung dari sejak sebelum tanggal 23 November lalu. aku sendiri melihat banyak ask.fm famous yang menggunakan foto profil dgn tema Pasar Seni ITB. sekitar seminggu sebelum acara itu berlangsung, beberapa teman-temanku sudah menanyakan "dateng ke pasar seni gak?" yah berhubung acara ini adalah acara 4 tahunan tampaknya sudah banyak orang yang menanti-nantikannya. beberapa hari sebelum acara ini aku sempat digalaukan dengan adanya acara Hellofest yang harinya kebetulan bersamaan, namun berhubung Hellofest di Jakarta dan aku sedang malas melakukan perjalanan jauh karena tuntutan tugas kuliah yang sangat banyak untuk dikerjakan. malam sebelum hari dilaksanakannya Pasar Seni ITB teman-teman dekatku dan beberapa teman yang lain menanyakan lagi apakah aku akan datang ke pasar seni atau tidak, serta mengajak untuk pergi bareng. keesokan harinya aku pergi sendiri, aku pergi lebih dulu dari teman-teman dekatku, karena aku berencana untuk beribadah ke gereja terlebih dahulu, sementara teman-teman dekatku berangkat bareng dan kami berencana bertemu di pasar seni. aku berniat untuk menaiki bus yang telah disediakan oleh gereja, namun ternyata aku ketinggalan bus, busnya berangkat pukul 8 pagi dan saat itu pukul 8 lewat. aku kemudian menuju pangkalan damri, sekitar 5 menit aku menunggu damri Jatinangor-Dipatiukur tak kunjung datang sementara sudah sangat banyaaakkk calon penumpang yang sedang menunggu. 'tidak mungkin', pikirku. aku menuju travel, dan kemudian bertemu dgn teman sekelasku sebut saja Venty, Venty bilang travel sudah habis dan paling cepat untuk keberangkatan jam 10. ah yang benar saja, ibadah dimulai jam 10, aku harus cari cara lain. ternyata Venty sedang menunggu Ami, teman sekelasku juga. Ami menawarkan beberapa solusi untuk menuju tempat pasar seni berada, sembari memikirkan dan memutuskan solusinya kami pun sarapan kupat tahu. kami memutuskan untuk naik angkot nangor-cileunyi kemudian disambung dengan angkot cileunyi-cicaheum dilanjutkan lagi dgn cicaheum-ciroyom. ah sial ongkos angkot naik seiring naiknya harga BBM. singkatnya, sudah di Bandung kota tidak terlalu jauh lagi dari tempat tujuan, tiba-tiba hujan turun sangat deras sampai masuk melewati jendela yang tertutup rapat, menitik masuk membasahi tempat duduk hingga celanaku basah -_- sungguh apes, aku turun dari bangku angkot dan berjongkok. saat itu jam tengah 11, tentu saja ibadah sudah dimulai. hujan masih sangat deras, angkot melintasi simpang dago. tanpa pikir panjang, aku yg tadinya sudah pasrah dan membatalkan ibadah karena temanku bilang angkot ini tidak lewat simpang dago dan waktunya sudah sangat lewat, aku pun langsung turun dari angkot dan menuju gereja. jalanan sudah seperti sungai kecil yang berarus kuat, aku ragu untuk melewatinya. kemudian ada seorang ibu-ibu yang memintaku untuk menyeberang bersama, aku berbagi payung dengannya. saat kami menyeberang bersama bisa kurasakan arus deras air hampir membawaku, untung ibu itu memegangku. sepatu sneakersku kali ini benar-benar dipenuhi air, aku tidak peduli. aku berlari menuju gereja lalu bertemu dengan kakak alumni, namanya kak Lia. kak Lia mengajak untuk masuk bareng, kami ke toilet sebentar untuk rapi-rapi. aku membuka sepatu ku dan mengeringkannya di mesin hand dryer sementara menunggunya selesai. dengan tergesa-gesa kami menaiki tangga dan memasuki ruang ibadah, tentu saja sudah memasuki khotbah, bahkan khotbah sudah hampir selesai. meskipun  begitu aku tetap bersyukur, karena aku mendapati diriku masih dengan teguh berjuang melewati hujan dan banjir untuk mengikuti ibadah. aku masih mendapati diri ku mencapai apa yang sudah aku niatkan, aku masih mendapati diriku masih mencintai Tuhan meski situasinya berat #ehLebayding hehe
11.45 ibadah selesai, aku mengeringkan kembali sepatu ku. semua orang yang ku kenal di gereja pun berniat menuju pasar seni. aku berjalan mengikuti kerumunan orang-orang menuju pasar seni. aku menghubungi semua teman-teman dekatku, Oci(Yosi), Sunny, Shella, Frida. tapi tak seorangpun dapat dihubungi. aku tiba di jalan Ganeca tempat pasar seni diadakan. wow. lautan manusia. aku berjalan menyusuri jalan ganeca dengan berdesak-desakan. saat memasuki pasar seni, seorang teman menghubungiku, ternyata nomor Shella yang lain. dia menanyakan keberadaanku, dan menjelaskan keberadaannya. aku berjalan semakin memasuki jalan ganeca, tempat kampus ITB berada, tempat pasar seni diadakan. awalnya aku melihat 3 menara yang dibangun dari potongan kayu yang di susun. setelahnya aku melihat teatrikal, sebentar saja aku sudah meninggalkannya. aku menyusuri lagi, dan mulai melihat seni-seni rupa, seperti lukisan dan patung. melihat lukisan-lukisan itu aku merasa terhipnotis dan sangat bahagia. beberapa kali aku menyentuh ujung jari pada permukaan kanvas, pada permukaan cat, mencoba merasakan lukisan itu, menyatu dengannya, menyelami makna dibalik sapuan kuas sang pelukis. Shella kembali menghubungi, menjelaskan bagaimana cara menuju tempat dimana mereka berada. tenang sobat, aku tidak sedang tersesat, aku melebur bersama seni. kalo boleh jujur, aku tidak mencari cara menemukan mereka hehe maaf aku sedang menikmati apa itu keindahan, dan jiwaku penuh atasnya. kemudian aku melihat lukisan-lukisan raksasa di tengah lapangan, di dalam pagar. aku sangat penasaran dan ingin melihat, namun sayang pintu pagar ditutup dan aku harus lewat jalur masuk yang telah disediakan. aku menuju jalur masuk dengan bersesak-sesakan, ahh ini sudah entah kesekian kalinya dari sejak awal aku masuk jalan ganeca aku hampir saja bersentuhan wajah dengan orang lain yang berjalan berlawanan arah denganku. sebelum tiba di pintu masuk menuju lukisan yang hendak aku tuju, aku melihat beberapa karya seni seperti robot laba-laba, lukisan yah aku sempat melihat-lihat dan menyentuh dan mengambil foto lukisannya, lalu aku melewati booth Tak Kenal Maka Kenalan (tapi tetep gak dapet kenalan heuh), kemudian sangkin gerahnya aku dengan tidak tau malu meminta kipas pada teteh-teteh yang bagi-bagi kupon dan kipas Wardah. aku terus menyusuri jalanan yang becek sisa-sisa hujan, sampai aku melihat patung dinosaurus yang sedari tadi disebut-sebut Shella sebagai tanda dimana mereka berada. Shella kembali menelponku dan menanyakan dimana aku berada. hingga ketika aku semakin mendekat dengan replika T-Rex yang terbuat dari seng bekas itu, mereka, teman-temanku memanggilku. aku mendekati mereka, disana ada Shella, Sunny, Frida + Arum adik kelas kami yang dekat dengan Frida. Oci dimana? Oci sedang berada di galeri bersama teman-temannya. teman-temanku menanyakan apakah aku sudah puas melihat-lihat atau mau pergi melihat-lihat lagi. mereka berkata "cuma gitu doank", tampaknya mereka sudah jenuh atau bahkan tidak tertarik, dan yang pasti mereka lapar. aku bilang "kalo mau makan, sok aja duluan. aku masih pengen liat-liat dulu". aku memasuki galeri, lukisan-lukisan kembali menyita perhatianku. awalnya aku memasuki booth lukisan beraliran naturalis, aku suka melihat bunga-bunga kecil di tengah rimbun dedaunan hutan dalam lukisan itu. juga lukisan lain dimana hanya ada pohon dan cahaya matahari yang mencuri celah untuk masuk. aku memasuki booth berbagai aliran lukisan, aku tidak terlalu mengerti aliran-aliran seni aku hanya suka melukis apa yang aku mau dan aku suka melihat lukisan-lukisan tertentu walaupun aku tak tau nama alirannya apa. aku mengambil foto untuk lukisan-lukisan yang aku suka. sepertinya kalau sering-sering ke galeri aku akan semakin mengenali apa seleraku dan mau ke arah aliran mana lukisanku ku bawa. aku tak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya, perasaan kagum, perasaan bahagia, perasaan yang tercampur dalam makna yang dihadirkan lukisan-lukisan itu, sungguh perasaan unik yang membuatku sangat nyaman. tapi sungguh, demi apapun aku sungguh ingin memakan mereka yang bolak-balik menelponiku, missedcall lebih tepatnya. kemudian aku melihat karya seni rupa, seperti kaca atau botol yang di dalamnya terdapat miniatur benda/manusia ada juga yang berisi miniatur lautan, sungguh aku ingin beli, tapi melihat harganya ahhh yang benar saja :( . aku keluar dari galeri, dan seorang temanku berkata "kamu kenapa mukanya gitu? gak suka yah, gak sesuai ekspektasi yah?" yang lain menimpali "iyah emang cuma gitu doank". dalam hati aku berteriak "APAAN??!!! GUE TU KESEL KARENA DI MISSCALL-MISSCALL GAK JELAS. KALO MAU MAKAN SOK AJA MAKAN. KALO MAU PERGI SOK AJA PERGI". aku tersenyum tipis, "kenapa misscall-misscall?", tanyaku tak bersemangat. "kami tuh takut kamu nyasar". aku tersenyum masam. kemudian Oci datang dengan teman-teman SMAnya. teman-temanku merencanakan makan bersama. dalam hatiku "APAH??!!! INI UDAH GINI DOANK?!! MASIH BANYAK YANG BELUM GUE LIAT!!!". mereka masih bingung ingin makan dimana. "jadi mau makan dimana? kalo udah fix kasih tau aja ya, aku masih banyak yang pengen diliat nanti aku nyusul hehe", kataku tak ingin kehilangan kesempatan. lalu seseorang berkata "serius? kamu bakal beneran nyusul", aku tidak paham maksud perkataannya itu karena sedang kesal semuanya terkesan negatif bagiku. "Agnes belum puas ya?", ini pertanyaan yang sama yang di lontarkan Oci berulang-ulang kali sejak saat itu dan sampai keesokan harinya masih ditanyakan, dan pertanyaan itu sama sekali tidak ku tanggapi pada hari pasar seni itu. Batre HPku habis saat tempat makan belum juga ditentukan, 'ah tidak memungkinkan kalau aku menyusul'. Sunny berkata "nes, kamu beneran gak apa-apa? masih pengen liat-liat lagi? biar kita temenin."  "iya nes....", Shella menimpali. sejujurnya aku masih sangat ingin, tapi entah kenapa aku sudah sangat malas, gak mood mungkin lebih tepatnya. ini benar-benar perasaan yang sangat tidak aku sukai, perasaan ingin tapi sudah tak ingin. akhirnya tempat makan sudah diputuskan, kami meninggalkan pasar seni pada pukul setengah 2. yah kira-kira satu jam setengah aku berada di sana namun terasa begitu singkat, kira-kira satu jam setengah itu pula teman-temanku telah menungguiku. mengkhawatirkanku, takut kalau-kalau aku tersesat. takut kalau-kalau aku merasa sendirian di tengah lautan manusia. padahal orang yang mereka tunggu dengan tidak tau dirinya sedang asik menikmati dunianya, mungkin kalau saja semesta tak membawaku menuju lukisan raksasa di tengah lapangan dan membuatku mencari pintu masuknya hingga aku berada di depan replika T-Rex itu dan terlihat oleh mereka, sebenarnya mungkin saja aku tidak akan mencari mereka sampai aku merasa puas. aku tak tau apakah aku memang jahat, atau seni dapat membuat kita menjadi 'jahat', mungkin itu lah mengapa aku tak ingin menyukai pria seniman, karena aku takut dia lebih menikmati dunianya sendiri ketimbang saat bersamaku nantinya. aku menyadari bahwa, mungkin kita sebagai manusia berbeda, kita memiliki selera yang berbeda, aku dan teman-temanku mungkin tak sama dalam hal kesukaan, dalam hal seni, namun bukan berarti kita tak bisa saling memahami. mereka telah mencoba untuk memahamiku, dan sudah sepantasnya aku pun harus memahami bahwa mereka sudah jenuh mereka lapar, mereka sudah menikmati pasar seni lebih dulu saat aku masih di gereja wajar saja jika saat aku datang mereka sudah tak antusias lagi untuk mengeksplorasi. walaupun mungkin aku cukup kesal, tapi setelah menyadarinya aku merasa sangat beruntung memiliki mereka sebagai sahabat-sahabatku :) aku mungkin memang tidak ahli dalam memahami interaksi manusia, aku individualis, tapi secara tak langsung aku telah belajar meninggalkan ke-egoisanku. maka pada akhirnya seperti statement yang diucapkan Sunny dalam seharian itu "manusia adalah seni yang sesungguhnya".

Senin, 17 November 2014

Jenuh dan Hidup

akhir-akhir ini aku dipusingkan dengan banyaknya tugas-tugas kuliah. belum lagi mengenai kejenuhanku akan rutinitas kuliah, benar kata orang-orang semester 5 adalah saat mulai jenuh dengan kuliah. 
tidak hanya dengan akademik, aku pun jenuh dengan segala kegiatan organisasi dan kepanitiaan yang ku ikuti. 
kejenuhan ini menjadi titik balik bagiku untuk melihat ke dalam diriku, apa yang benar-benar ku inginkan, dan kehidupan seperti apa yang ingin aku jalani. jelas, rutinitas berorganisasi bukanlah diri-ku, yaah aku memang hanya mencoba, menantang diri lebih tepatnya. 
pun tentang kuliah, aku kembali berpikir, apa tujuanku kuliah? apakah aku benar-benar menginginkannya? aku kembali berpikir tentang apa yang ingin aku lakukan di masa depan. aku kembali mengingat apa yang menjadi cita-cita ku. apakah aku harus kuliah untuk dapat mencapainya?
lalu aku berpikir, sebenarnya cita-cita ku sederhana, aku hanya ingin bermanfaat bagi org lain aku ingin membantu anak-anak yang terkena konflik seperti di jalur Gaza membantu mereka keluar dari trauma, aku ingin membantu anak-anak yg kelaparan di Afrika atau Indonesia Timur, aku ingin memberikan pendidikan bagi anak-anak di pedalaman. lalu aku berpikir untuk menjadi volunteer di Unicef, yah aku hanya berpikir untuk menjadi volunteer. sampai akhirnya keinginan itu berkembang karena keinginan akan kenyamanan hidup, aku ingin jadi staff ahli di Unicef dgn gaji nya yang sangat lumayan. dan untuk menjadi staff ahli aku harus menempuh pendidikan S2. maka aku harus menyelesaikan kuliah S1 dan berusaha mendapatkan kuliah S2. tapi sepertinya proses itu menekan jiwa ku.
selain itu, aku hanya ingin tetap melakukan apa yang ku suka seperti melukis dan menulis fiksi. tapi kesibukan kuliah membuatku sulit menemukan waktu yang pas dan mood yang tepat karena terbeban ini-itu. 
aku kesal karena kuliah mengalienasiku dari apa yang aku suka
aku kembali berpikir, memurnikan niatku terlepas dari materi, andai saja aku tidak berkuliah pun aku sebenanrnya dapat mencapai cita-cita sederhana ku itu, menjadi volunteer dan tetap melukis serta menulis fiksi.
buatku salah satu alasan kuliah yang paling absurd namun paling terkait dengan realita adalah tuntutan sistem. setelah tamat SMA maka kita di hadapkan 2 pilihan, kuliah atau kerja. karena kedua orang tua ku orang berpendidikan maka aku diarahkan untuk kuliah, pun melihat kakak-abangku yang setelah lulus SMA melanjutkan kuliah, maka aku mau tidak mau harus menempuh proses itu. apa kata orang tua ku jika rekan mereka menanyakan "anak bapak/ibu si agnes kuliah dimana?"maka jadilah aku sekarang kuliah di salah satu PTN terfavorit di Indonesia.  mau tidak mau aku harus bertanggungjawab terhadap pilihan yang ku ambil. mau tidak mau aku harus menuruti sistem yang berlaku di prodi tempat ku berkuliah. tidak, sebenarnya aku tidak terpaksa, aku menikmati proses aku berkuliah, hanya saja ketika rasa jenuh menghampiri ku aku rasa aku ingin melakukan hal yang aku suka saja. karena sebenarnya bukan kehidupan seperti ini yang aku ingini.
tentang cita-citaku mengambil S2 ke luar negeri pun, aku rasa bukan itu yang aku inginkan. aku hanya ingin menikmati dan merasakan bagaimana kehidupan disana. lagi-lagi aku terjebak dengan impian ku sendiri.
kehidupan yang aku ingini adalah kehidupan sederhana, membantu orang lain dan melakukan hobby-ku.
kenapa aku harus stress dengan kehidupan yang tidak aku ingini.
orang yang membaca tulisan ini mungkin berpikir bahwa aku orang yang tidak bersyukur, tidak menghargai apa yang aku punya saat ini. terserah jika ingin berpikir demikian.
yah, aku masih sedang belajar, aku masih perlu banyak belajar tentang kehidupan ini.
tentang kehidupan ku yang sekarang, aku sedang berusaha untuk bertanggungjawab atasnya. jenuh memang, letih memang, tapi aku sudah mengambil keputusan untuk menempuh jalan ini maka mau tidak mau aku harus menikmatinya. berusaha bukan untuk bertahan hidup, aku ingin menghidupi kehidupanku, yang sekarang mau pun nanti. untuk membuat ku benar-benar hidup.