Senin, 17 November 2014

Jenuh dan Hidup

akhir-akhir ini aku dipusingkan dengan banyaknya tugas-tugas kuliah. belum lagi mengenai kejenuhanku akan rutinitas kuliah, benar kata orang-orang semester 5 adalah saat mulai jenuh dengan kuliah. 
tidak hanya dengan akademik, aku pun jenuh dengan segala kegiatan organisasi dan kepanitiaan yang ku ikuti. 
kejenuhan ini menjadi titik balik bagiku untuk melihat ke dalam diriku, apa yang benar-benar ku inginkan, dan kehidupan seperti apa yang ingin aku jalani. jelas, rutinitas berorganisasi bukanlah diri-ku, yaah aku memang hanya mencoba, menantang diri lebih tepatnya. 
pun tentang kuliah, aku kembali berpikir, apa tujuanku kuliah? apakah aku benar-benar menginginkannya? aku kembali berpikir tentang apa yang ingin aku lakukan di masa depan. aku kembali mengingat apa yang menjadi cita-cita ku. apakah aku harus kuliah untuk dapat mencapainya?
lalu aku berpikir, sebenarnya cita-cita ku sederhana, aku hanya ingin bermanfaat bagi org lain aku ingin membantu anak-anak yang terkena konflik seperti di jalur Gaza membantu mereka keluar dari trauma, aku ingin membantu anak-anak yg kelaparan di Afrika atau Indonesia Timur, aku ingin memberikan pendidikan bagi anak-anak di pedalaman. lalu aku berpikir untuk menjadi volunteer di Unicef, yah aku hanya berpikir untuk menjadi volunteer. sampai akhirnya keinginan itu berkembang karena keinginan akan kenyamanan hidup, aku ingin jadi staff ahli di Unicef dgn gaji nya yang sangat lumayan. dan untuk menjadi staff ahli aku harus menempuh pendidikan S2. maka aku harus menyelesaikan kuliah S1 dan berusaha mendapatkan kuliah S2. tapi sepertinya proses itu menekan jiwa ku.
selain itu, aku hanya ingin tetap melakukan apa yang ku suka seperti melukis dan menulis fiksi. tapi kesibukan kuliah membuatku sulit menemukan waktu yang pas dan mood yang tepat karena terbeban ini-itu. 
aku kesal karena kuliah mengalienasiku dari apa yang aku suka
aku kembali berpikir, memurnikan niatku terlepas dari materi, andai saja aku tidak berkuliah pun aku sebenanrnya dapat mencapai cita-cita sederhana ku itu, menjadi volunteer dan tetap melukis serta menulis fiksi.
buatku salah satu alasan kuliah yang paling absurd namun paling terkait dengan realita adalah tuntutan sistem. setelah tamat SMA maka kita di hadapkan 2 pilihan, kuliah atau kerja. karena kedua orang tua ku orang berpendidikan maka aku diarahkan untuk kuliah, pun melihat kakak-abangku yang setelah lulus SMA melanjutkan kuliah, maka aku mau tidak mau harus menempuh proses itu. apa kata orang tua ku jika rekan mereka menanyakan "anak bapak/ibu si agnes kuliah dimana?"maka jadilah aku sekarang kuliah di salah satu PTN terfavorit di Indonesia.  mau tidak mau aku harus bertanggungjawab terhadap pilihan yang ku ambil. mau tidak mau aku harus menuruti sistem yang berlaku di prodi tempat ku berkuliah. tidak, sebenarnya aku tidak terpaksa, aku menikmati proses aku berkuliah, hanya saja ketika rasa jenuh menghampiri ku aku rasa aku ingin melakukan hal yang aku suka saja. karena sebenarnya bukan kehidupan seperti ini yang aku ingini.
tentang cita-citaku mengambil S2 ke luar negeri pun, aku rasa bukan itu yang aku inginkan. aku hanya ingin menikmati dan merasakan bagaimana kehidupan disana. lagi-lagi aku terjebak dengan impian ku sendiri.
kehidupan yang aku ingini adalah kehidupan sederhana, membantu orang lain dan melakukan hobby-ku.
kenapa aku harus stress dengan kehidupan yang tidak aku ingini.
orang yang membaca tulisan ini mungkin berpikir bahwa aku orang yang tidak bersyukur, tidak menghargai apa yang aku punya saat ini. terserah jika ingin berpikir demikian.
yah, aku masih sedang belajar, aku masih perlu banyak belajar tentang kehidupan ini.
tentang kehidupan ku yang sekarang, aku sedang berusaha untuk bertanggungjawab atasnya. jenuh memang, letih memang, tapi aku sudah mengambil keputusan untuk menempuh jalan ini maka mau tidak mau aku harus menikmatinya. berusaha bukan untuk bertahan hidup, aku ingin menghidupi kehidupanku, yang sekarang mau pun nanti. untuk membuat ku benar-benar hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar