Hari
ini anniversary kami yang pertama, aku yang sama sekali tidak bisa memasak ini
pun sudah berjuang semalam suntuk dengan bantuan resep dari Mama akhirnya
berhasil membuat beberapa cupcake lucu yang ingin ku hadiahkan untuk Andre,
pacarku. Kami janjian di cafe ini pukul 12.00 tapi sudah satu jam aku menunggu
Andre belum datang juga, tidak biasanya dia seperti ini. Aku masih terus
memandangi arlojiku, mood-ku mulai sedikit
berubah. Keceriaan berganti menjadi rasa was-was bercampur kesal. Dia terlambat
di hari anniversary pertama kami, apakah dia ada urusan mendadak, apakah dia
ingin memberiku kejutan, pikirku menghibur diri.
Satu jam setengah aku masih bergumul
dengan keresahan, hingga sosok yang ku tunggu-tunggu akhirnya tiba di depanku.
“Happy anniversary sayang!”, ucapku sambil bercipika-cipiki dengannya. Tidak
hanya lega, hatiku sangat bahagia melihatnya, terlupakan dengan segera
kekesalan dan keresahanku. Segera kunyalakan lilin-lilin kecil diatas cupcake
dan kami meniupnya bersama. Tampak sedikit kejanggalan pada senyum Andre
seperti sedang menyembunyikan sesuatu tapi aku tidak tahu apa.
“Kamu
tahu nggak, aku buat sendiri loh cupcake-nya hehe”, aku sedikit pamer pada
Andre.
“Oh.
Aku juga ada kado nih buat kamu.”, balasnya dingin, tanpa antusias sedikitpun.
“Makasih
sayang.”, aku sumringah.
Andre
hanya tersenyum simpul sesaat dan kembali berekspresi datar.
“Uhm...kamu
kenapa sih? Lagi ada masalah?”, aku sedikit khawatir.
Andre
masih diam.
“Biasanya
kamu selalu cerita sama aku.”
Aku
menatap mata Andre, dia mengalihkan pandangannya.
“Ya
udah kalo kamu nggak mau cerita, nggak apa-apa kok. Aku nggak akan maksa.”
Kali
ini Andre tidak bisa lagi menyembunyikan kegelisahannya.
“Lu-Lucya...
Lucya siang ini berangkat ke Amerika, Yes.”, Andre tertunduk.
Kali
ini aku yang tak mampu berkata apa-apa, hanya menghela napas panjang.
“Yessa
kamu nggak apa-apa?”, Andre mengelus kepalaku.
Di
hari anniversary pertama kami, dia justru mengucapkan nama itu.
“Haha,
aku? Nggak apa-apa lah haha, kamu nggak bakal nganterin dia?”
“Ehm...”,
Andre tampak ragu.
“Aku
nggak apa-apa kok, seriusan hehe. Kapan lagi bisa ketemu dia, buruan gih entar
dia keburu berangkat, kamu nyesel loh...”, aku memasang senyum selebar yang aku
bisa.
Senyum
Andre mengembang.
“Makasih
sayang! Maaf ya...”, Andre mengecup keningku dan berlalu meninggalkanku.
Jangan
tanya bagaimana perasaanku saat ini. Aku sudah cukup kuat menahan air mataku
agar tidak jatuh sebelum dia pergi. Apalah arti sapaan “sayang” yang
diucapkannya? Apalah arti kecupan yang diberikannya? Apalah arti kado yang
dihadiahkannya? Apalah arti hubungan ini? Jika di hatinya bukan namaku yang
tertulis, jika hanya Lucya dan masih tetap Lucya yang ada di hatinya. Aku
menghela napas panjang, ingin rasanya aku membuang cupcake-cupcake dan kado
ini.
***
Aku
mengenal Andre sejak duduk di bangku SMP, saat itu dia adalah tetangga baruku.
Aku tidak terlalu tertarik untuk berkenalan dengannya lagi pula kami tidak satu
sekolah. Suatu sore aku bermain basket sendirian di lapangan basket komplek
perumahan, bolaku terpantul ke arah jalan setapak dan mengenai Andre yang
tengah melintas. Andre kemudian masuk ke area lapangan dan mulai men-drible bola, aku berusaha merebutnya dari
Andre tapi Andre justru berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Hari semakin gelap, pertandingan dadakan aku dan Andre pun
berakhir dengan perkenalan. Sejak saat itu aku dan Andre menjadi teman baik.
Memasuki SMA aku dan Andre memilih
untuk mendaftar ke sekolah yang sama. Meski tidak satu kelas kami selalu pergi
dan pulang sekolah bersama. Kami semakin tak terpisahkan sejak Andre masuk klub
basket dan aku menjadi manejer tim basket sekolah. Kami selalu berbagi cerita,
tidak ada satupun cerita tentang Andre yang tidak ku ketahui tetapi ada satu
hal tentangku yang tidak diketahui Andre. Hal itu adalah tentang perasaanku
padanya.
Tahun ketiga kami di SMA aku
mengundurkan diri menjadi menejer tim basket sekolah mengingat kesibukanku
mengikuti les bimbel, sementara Andre masih aktif di klub basket. Posisiku
digantikan oleh anak kelas sebelas, ku dengar dia ketua kelas, juara umum,
juara pidato bahasa inggris tingkat nasional, dan seorang model. Namanya Lucya,
gadis pujaan para anak cowok di sekolah. Aku yakin super girl seperti dia pasti bisa mengurus tim basket sekolah.
Sampai aku tahu Andre jatuh cinta pada Lucya, aku seolah ingin merebut kembali
posisi manejer itu darinya. Ah, tapi itu hanya keegoisan sesaatku, mana mungkin
aku lakukan itu. Yang namanya patah hati memang tetap menyakitkan meski aku
berusaha menerima itu semua. Tapi, apa yang bisa kulakukan selain mendukung
sahabatku?
“Eh,
lo tahu nggak, gue dengar dari anak-anak cowok katanya Lucya mau ulang tahun
loh...”, cetusku pada Andre ketika pulang sekolah.
“Iya,
nggak usah lo kasih tahu gue juga udah tahu.”, jawab Andre datar.
“Lo
nggak berencana ngasih apa gitu atau ngasih kejutan gitu?”, tanyaku semakin
antusias.
“Ya
udah sih kalau ulang tahun tinggal ngucapin, heboh banget.”, Andre mulai malas
menanggapi.
“Jadi
lo benar-benar nggak pengen Lucya tahu ya kalau lo suka sama dia? Lo bakal
pendam perasaan ini sampe kapan?”, aku tidak tahu tujuanku bertanya ini, ini
pertanyaan yang sama yang berlaku untukku juga. Andre hanya diam, dia memasukkan
tangannya kedalam saku jaket dan berjalan sedikit lebih cepat dariku.
“Kita
udah mau lulus Ndre, Lucya juga berencana bakal kuliah di luar negeri. Waktu lo
nggak banyak. Lo yakin lo nggak bakal nyesal? Ya gue takutnya lo nggak bisa
ketemu dia lagi aja.”, hatiku perih mendengar perkataanku sendiri.
Andre
berbalik badan, “Lo nggak usah sok tahu dan berhenti ikut campur.”
“Oh,
oke haha. Gue cuma mencoba peduli, Ndre. Bye. ”, aku mempercepat langkahku
mendahului Andre dengan mata berkaca-kaca.
Satu
minggu aku dan Andre tidak saling bicara, tidak pula pergi dan pulang bersama.
Sampai aku harus kerumahnya mengambil kartu ujian nasionalku, yang dititipkan
ketua kelasku pada Andre. Ah, ketua kelas tidak sabaran, apa susahnya dia
menungguku sebentar saja. Tapi aku bersyukur juga karenanya aku dan Andre
berbaikan kembali. Selesai ujian nasional sekolah kami mengadakan prom night.
“Woy,
lo udah siap belum?”, teriak Andre di depan jendela kamarku.
“Suka-suka
gue lah mau udah siap atau belum.”, balasku teriak dari kamar.
“Dih
belagu banget sih, buruan woy... lo mau bareng nggak? Mumpung gue bawa mobil nih.”
Jantungku
rasanya berdebar-debar, apa ini artinya Andre mengajakku sebagai pasangannya di
prom night. Oh God, aku belum siap. Kenapa dia mengajakku sesaat sebelum berangkat?
Kenapa tidak sejak jauh-jauh hari? Kenapa dia selalu seenaknya saja?
“Lo
ngajak gue jadi pasangan prom night nih
ceritanya haha.”, godaku.
“Apaan
sih lo, udah nggak usah bawel, buruan. Lama banget sih lo, bete gue selama tiga
tahun kerjaan gue nungguin lo mulu disini.”, mendengar repetan Andre aku hanya
bisa tertawa.
Sepulang
dari prom night, Andre menghentikan
mobil di dekat lapangan basket tempat kami pertama berkenalan dulu.
“Kenapa
berhenti?”, tanyaku singkat.
Andre
mengambil bola basket dari jok belakang.
“Turun!”,
perintah Andre semaunya.
“Lo
mau ngajak gue main basket? Lo nggak liat gue pakai dress dan high heels?”,
aku protes.
“Bodo
amat.”, jawabnya sekenanya.
Aku
tak pernah berkuasa menolak Andre yang selalu bertingkah semaunya. Kulepaskan high heels-ku dan menerima tantangannya,
Andre menanggalkan jas-nya. Aku tidak tahu mengapa tapi sepertinya aku sangat
bahagia bermain dengannya malam ini. Lelah bermain, kami mengakhirinya dan
berbaring di lapangan basket. Langit malam tampak begitu indah dengan bulan
sabitnya dan bintang-bintang yang berkilauan. Aku sangat kaget ketika Andre
tiba-tiba menggenggam tanganku.
“Yess,
maaf ya...”
“Hah?
Maaf buat apa?”
“Maaf
karena selama ini gue nggak menyadari kalau lo yang selalu ada buat gue, lo
yang paling ngertiin gue.”
Aku
tak mampu berkata-kata, aku tidak paham perasaan ini, aku bahagia tapi disisi
lain aku menyadari kami hanya berteman, tidak lebih.
“Yess,
lo sahabat terbaik gue. Tapi salah nggak kalau gue sayang sama lo? Salah nggak
kalo gue pengen kita pacaran?”, Andre menatapku.
Setelah
malam itu aku dan Andre resmi pacaran. Tidak terlalu banyak yang berubah dengan
status baru kami, mengingat aku dan Andre memang sudah dekat sejak lama. Kami
kuliah di kampus yang berbeda, tentunya hal itu mengurangi intensitas pertemuan
kami. Tapi hal itu sama sekali tidak membuat hubungan kami berantakan. Hubungan
kami baik-baik saja, tidak ada masalah, tidak pula ada orang ketiga, paling
hanya pertengkaran kecil dan semua kembali baik-baik saja.
***
Ku rapikan kembali cupcake-cupcake
itu ke dalam kotaknya sambil tak henti-hentinya ku seka air mataku. Karina
-adik Andre yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar- pasti suka, pikirku. Aku
bergegas menuju kasir untuk membayar makanan dan minuman yang tidak tersentuh
itu, yang tadinya sengaja aku pesan untuk Andre juga.
Sesampainya di komplek rumah,
langkahku terhenti di lapangan basket tempat aku dan Andre pertama kali
berkenalan dulu, tempat dimana aku dan Andre mengawali hubungan kami. Aku terus
bertanya-tanya dalam hati, apakah
pernyataan cinta Andre malam itu sungguh-sungguh? Apakah Andre menyayangiku sebagai kekasih
atau hanya sebagai sahabat? Atau apakah Andre melakukan itu karena menyadari
aku diam-diam menyukainya dan sekedar ingin membahagiakanku? Atau apakah karena
dia mencoba mengalihkan perasaannya dari Lucya? Apakah Andre masih mencintai
Lucya hingga saat ini? Apakah Andre akan mengungkapkan perasaannya pada Lucya
sekarang?
Entahlah,
aku tidak tahu pasti jawaban dari semua pertanyaan itu. Sebagai orang yang
mencintainya hatiku sangat hancur, namun sebagai sahabatnya aku akan turut
bahagia jika itu terjadi. Kuseka air mataku untuk terakhir kalinya, lalu
bangkit berdiri dari bangku taman yang menghadap ke lapangan basket itu. Setiap
cinta akan menemukan jalannya sendiri, tetapi sahabat sejati tak mudah
ditemukan, sulit ditinggalkan dan tak kan pernah terganti. Terimakasih Andre
telah menjadi sahabat terbaikku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar