Sabtu, 13 Desember 2014

(Just) Friend Forever

Hari ini anniversary kami yang pertama, aku yang sama sekali tidak bisa memasak ini pun sudah berjuang semalam suntuk dengan bantuan resep dari Mama akhirnya berhasil membuat beberapa cupcake lucu yang ingin ku hadiahkan untuk Andre, pacarku. Kami janjian di cafe ini pukul 12.00 tapi sudah satu jam aku menunggu Andre belum datang juga, tidak biasanya dia seperti ini. Aku masih terus memandangi arlojiku, mood-ku mulai sedikit berubah. Keceriaan berganti menjadi rasa was-was bercampur kesal. Dia terlambat di hari anniversary pertama kami, apakah dia ada urusan mendadak, apakah dia ingin memberiku kejutan, pikirku menghibur diri.
            Satu jam setengah aku masih bergumul dengan keresahan, hingga sosok yang ku tunggu-tunggu akhirnya tiba di depanku. “Happy anniversary sayang!”, ucapku sambil bercipika-cipiki dengannya. Tidak hanya lega, hatiku sangat bahagia melihatnya, terlupakan dengan segera kekesalan dan keresahanku. Segera kunyalakan lilin-lilin kecil diatas cupcake dan kami meniupnya bersama. Tampak sedikit kejanggalan pada senyum Andre seperti sedang menyembunyikan sesuatu tapi aku tidak tahu apa.
“Kamu tahu nggak, aku buat sendiri loh cupcake-nya hehe”, aku sedikit pamer pada Andre.
“Oh. Aku juga ada kado nih buat kamu.”, balasnya dingin, tanpa antusias sedikitpun.
“Makasih sayang.”, aku sumringah.
Andre hanya tersenyum simpul sesaat dan kembali berekspresi datar.
“Uhm...kamu kenapa sih? Lagi ada masalah?”, aku sedikit khawatir.
Andre masih diam.
“Biasanya kamu selalu cerita sama aku.”
Aku menatap mata Andre, dia mengalihkan pandangannya.
“Ya udah kalo kamu nggak mau cerita, nggak apa-apa kok. Aku nggak akan maksa.”
Kali ini Andre tidak bisa lagi menyembunyikan kegelisahannya.
“Lu-Lucya... Lucya siang ini berangkat ke Amerika, Yes.”, Andre tertunduk.
Kali ini aku yang tak mampu berkata apa-apa, hanya menghela napas panjang.
“Yessa kamu nggak apa-apa?”, Andre mengelus kepalaku.
Di hari anniversary pertama kami, dia justru mengucapkan nama itu.
“Haha, aku? Nggak apa-apa lah haha, kamu nggak bakal nganterin dia?”
“Ehm...”, Andre tampak ragu.
“Aku nggak apa-apa kok, seriusan hehe. Kapan lagi bisa ketemu dia, buruan gih entar dia keburu berangkat, kamu nyesel loh...”, aku memasang senyum selebar yang aku bisa.
Senyum Andre mengembang.
“Makasih sayang! Maaf ya...”, Andre mengecup keningku dan berlalu meninggalkanku.
Jangan tanya bagaimana perasaanku saat ini. Aku sudah cukup kuat menahan air mataku agar tidak jatuh sebelum dia pergi. Apalah arti sapaan “sayang” yang diucapkannya? Apalah arti kecupan yang diberikannya? Apalah arti kado yang dihadiahkannya? Apalah arti hubungan ini? Jika di hatinya bukan namaku yang tertulis, jika hanya Lucya dan masih tetap Lucya yang ada di hatinya. Aku menghela napas panjang, ingin rasanya aku membuang cupcake-cupcake dan kado ini.
***
            Aku mengenal Andre sejak duduk di bangku SMP, saat itu dia adalah tetangga baruku. Aku tidak terlalu tertarik untuk berkenalan dengannya lagi pula kami tidak satu sekolah. Suatu sore aku bermain basket sendirian di lapangan basket komplek perumahan, bolaku terpantul ke arah jalan setapak dan mengenai Andre yang tengah melintas. Andre kemudian masuk ke area lapangan dan mulai men-drible bola, aku berusaha merebutnya dari Andre tapi Andre justru berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Hari semakin gelap, pertandingan dadakan aku dan Andre pun berakhir dengan perkenalan. Sejak saat itu aku dan Andre menjadi teman baik.
            Memasuki SMA aku dan Andre memilih untuk mendaftar ke sekolah yang sama. Meski tidak satu kelas kami selalu pergi dan pulang sekolah bersama. Kami semakin tak terpisahkan sejak Andre masuk klub basket dan aku menjadi manejer tim basket sekolah. Kami selalu berbagi cerita, tidak ada satupun cerita tentang Andre yang tidak ku ketahui tetapi ada satu hal tentangku yang tidak diketahui Andre. Hal itu adalah tentang perasaanku padanya.
            Tahun ketiga kami di SMA aku mengundurkan diri menjadi menejer tim basket sekolah mengingat kesibukanku mengikuti les bimbel, sementara Andre masih aktif di klub basket. Posisiku digantikan oleh anak kelas sebelas, ku dengar dia ketua kelas, juara umum, juara pidato bahasa inggris tingkat nasional, dan seorang model. Namanya Lucya, gadis pujaan para anak cowok di sekolah. Aku yakin super girl seperti dia pasti bisa mengurus tim basket sekolah. Sampai aku tahu Andre jatuh cinta pada Lucya, aku seolah ingin merebut kembali posisi manejer itu darinya. Ah, tapi itu hanya keegoisan sesaatku, mana mungkin aku lakukan itu. Yang namanya patah hati memang tetap menyakitkan meski aku berusaha menerima itu semua. Tapi, apa yang bisa kulakukan selain mendukung sahabatku?
“Eh, lo tahu nggak, gue dengar dari anak-anak cowok katanya Lucya mau ulang tahun loh...”, cetusku pada Andre ketika pulang sekolah.
“Iya, nggak usah lo kasih tahu gue juga udah tahu.”, jawab Andre datar.
“Lo nggak berencana ngasih apa gitu atau ngasih kejutan gitu?”, tanyaku semakin antusias.
“Ya udah sih kalau ulang tahun tinggal ngucapin, heboh banget.”, Andre mulai malas menanggapi.
“Jadi lo benar-benar nggak pengen Lucya tahu ya kalau lo suka sama dia? Lo bakal pendam perasaan ini sampe kapan?”, aku tidak tahu tujuanku bertanya ini, ini pertanyaan yang sama yang berlaku untukku juga. Andre hanya diam, dia memasukkan tangannya kedalam saku jaket dan berjalan sedikit lebih cepat dariku.
“Kita udah mau lulus Ndre, Lucya juga berencana bakal kuliah di luar negeri. Waktu lo nggak banyak. Lo yakin lo nggak bakal nyesal? Ya gue takutnya lo nggak bisa ketemu dia lagi aja.”, hatiku perih mendengar perkataanku sendiri.
Andre berbalik badan, “Lo nggak usah sok tahu dan berhenti ikut campur.”
“Oh, oke haha. Gue cuma mencoba peduli, Ndre. Bye. ”, aku mempercepat langkahku mendahului Andre dengan mata berkaca-kaca.
Satu minggu aku dan Andre tidak saling bicara, tidak pula pergi dan pulang bersama. Sampai aku harus kerumahnya mengambil kartu ujian nasionalku, yang dititipkan ketua kelasku pada Andre. Ah, ketua kelas tidak sabaran, apa susahnya dia menungguku sebentar saja. Tapi aku bersyukur juga karenanya aku dan Andre berbaikan kembali. Selesai ujian nasional sekolah kami mengadakan prom night.
“Woy, lo udah siap belum?”, teriak Andre di depan jendela kamarku.
“Suka-suka gue lah mau udah siap atau belum.”, balasku teriak dari kamar.
“Dih belagu banget sih, buruan woy... lo mau bareng nggak? Mumpung gue bawa mobil nih.”
Jantungku rasanya berdebar-debar, apa ini artinya Andre mengajakku sebagai pasangannya di prom night. Oh God, aku belum siap. Kenapa dia mengajakku sesaat sebelum berangkat? Kenapa tidak sejak jauh-jauh hari? Kenapa dia selalu seenaknya saja?
“Lo ngajak gue jadi pasangan prom night nih ceritanya haha.”, godaku.
“Apaan sih lo, udah nggak usah bawel, buruan. Lama banget sih lo, bete gue selama tiga tahun kerjaan gue nungguin lo mulu disini.”, mendengar repetan Andre aku hanya bisa tertawa.
Sepulang dari prom night, Andre menghentikan mobil di dekat lapangan basket tempat kami pertama berkenalan dulu.
“Kenapa berhenti?”, tanyaku singkat.
Andre mengambil bola basket dari jok belakang.
“Turun!”, perintah Andre semaunya.
“Lo mau ngajak gue main basket? Lo nggak liat gue pakai dress dan high heels?”, aku protes.
“Bodo amat.”, jawabnya sekenanya.
Aku tak pernah berkuasa menolak Andre yang selalu bertingkah semaunya. Kulepaskan high heels-ku dan menerima tantangannya, Andre menanggalkan jas-nya. Aku tidak tahu mengapa tapi sepertinya aku sangat bahagia bermain dengannya malam ini. Lelah bermain, kami mengakhirinya dan berbaring di lapangan basket. Langit malam tampak begitu indah dengan bulan sabitnya dan bintang-bintang yang berkilauan. Aku sangat kaget ketika Andre tiba-tiba menggenggam tanganku.
“Yess, maaf ya...”
“Hah? Maaf buat apa?”
“Maaf karena selama ini gue nggak menyadari kalau lo yang selalu ada buat gue, lo yang paling ngertiin gue.”
Aku tak mampu berkata-kata, aku tidak paham perasaan ini, aku bahagia tapi disisi lain aku menyadari kami hanya berteman, tidak lebih.
“Yess, lo sahabat terbaik gue. Tapi salah nggak kalau gue sayang sama lo? Salah nggak kalo gue pengen kita pacaran?”, Andre menatapku.
Setelah malam itu aku dan Andre resmi pacaran. Tidak terlalu banyak yang berubah dengan status baru kami, mengingat aku dan Andre memang sudah dekat sejak lama. Kami kuliah di kampus yang berbeda, tentunya hal itu mengurangi intensitas pertemuan kami. Tapi hal itu sama sekali tidak membuat hubungan kami berantakan. Hubungan kami baik-baik saja, tidak ada masalah, tidak pula ada orang ketiga, paling hanya pertengkaran kecil dan semua kembali baik-baik saja.
***
            Ku rapikan kembali cupcake-cupcake itu ke dalam kotaknya sambil tak henti-hentinya ku seka air mataku. Karina -adik Andre yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar- pasti suka, pikirku. Aku bergegas menuju kasir untuk membayar makanan dan minuman yang tidak tersentuh itu, yang tadinya sengaja aku pesan untuk Andre juga.
            Sesampainya di komplek rumah, langkahku terhenti di lapangan basket tempat aku dan Andre pertama kali berkenalan dulu, tempat dimana aku dan Andre mengawali hubungan kami. Aku terus bertanya-tanya dalam hati, apakah  pernyataan cinta Andre malam itu sungguh-sungguh?  Apakah Andre menyayangiku sebagai kekasih atau hanya sebagai sahabat? Atau apakah Andre melakukan itu karena menyadari aku diam-diam menyukainya dan sekedar ingin membahagiakanku? Atau apakah karena dia mencoba mengalihkan perasaannya dari Lucya? Apakah Andre masih mencintai Lucya hingga saat ini? Apakah Andre akan mengungkapkan perasaannya pada Lucya sekarang?
Entahlah, aku tidak tahu pasti jawaban dari semua pertanyaan itu. Sebagai orang yang mencintainya hatiku sangat hancur, namun sebagai sahabatnya aku akan turut bahagia jika itu terjadi. Kuseka air mataku untuk terakhir kalinya, lalu bangkit berdiri dari bangku taman yang menghadap ke lapangan basket itu. Setiap cinta akan menemukan jalannya sendiri, tetapi sahabat sejati tak mudah ditemukan, sulit ditinggalkan dan tak kan pernah terganti. Terimakasih Andre telah menjadi sahabat terbaikku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar