euforia kemeriahan Pasar Seni ITB mungkin telah dirasakan warga Bandung dari sejak sebelum tanggal 23 November lalu. aku sendiri melihat banyak ask.fm famous yang menggunakan foto profil dgn tema Pasar Seni ITB. sekitar seminggu sebelum acara itu berlangsung, beberapa teman-temanku sudah menanyakan "dateng ke pasar seni gak?" yah berhubung acara ini adalah acara 4 tahunan tampaknya sudah banyak orang yang menanti-nantikannya. beberapa hari sebelum acara ini aku sempat digalaukan dengan adanya acara Hellofest yang harinya kebetulan bersamaan, namun berhubung Hellofest di Jakarta dan aku sedang malas melakukan perjalanan jauh karena tuntutan tugas kuliah yang sangat banyak untuk dikerjakan. malam sebelum hari dilaksanakannya Pasar Seni ITB teman-teman dekatku dan beberapa teman yang lain menanyakan lagi apakah aku akan datang ke pasar seni atau tidak, serta mengajak untuk pergi bareng. keesokan harinya aku pergi sendiri, aku pergi lebih dulu dari teman-teman dekatku, karena aku berencana untuk beribadah ke gereja terlebih dahulu, sementara teman-teman dekatku berangkat bareng dan kami berencana bertemu di pasar seni. aku berniat untuk menaiki bus yang telah disediakan oleh gereja, namun ternyata aku ketinggalan bus, busnya berangkat pukul 8 pagi dan saat itu pukul 8 lewat. aku kemudian menuju pangkalan damri, sekitar 5 menit aku menunggu damri Jatinangor-Dipatiukur tak kunjung datang sementara sudah sangat banyaaakkk calon penumpang yang sedang menunggu. 'tidak mungkin', pikirku. aku menuju travel, dan kemudian bertemu dgn teman sekelasku sebut saja Venty, Venty bilang travel sudah habis dan paling cepat untuk keberangkatan jam 10. ah yang benar saja, ibadah dimulai jam 10, aku harus cari cara lain. ternyata Venty sedang menunggu Ami, teman sekelasku juga. Ami menawarkan beberapa solusi untuk menuju tempat pasar seni berada, sembari memikirkan dan memutuskan solusinya kami pun sarapan kupat tahu. kami memutuskan untuk naik angkot nangor-cileunyi kemudian disambung dengan angkot cileunyi-cicaheum dilanjutkan lagi dgn cicaheum-ciroyom. ah sial ongkos angkot naik seiring naiknya harga BBM. singkatnya, sudah di Bandung kota tidak terlalu jauh lagi dari tempat tujuan, tiba-tiba hujan turun sangat deras sampai masuk melewati jendela yang tertutup rapat, menitik masuk membasahi tempat duduk hingga celanaku basah -_- sungguh apes, aku turun dari bangku angkot dan berjongkok. saat itu jam tengah 11, tentu saja ibadah sudah dimulai. hujan masih sangat deras, angkot melintasi simpang dago. tanpa pikir panjang, aku yg tadinya sudah pasrah dan membatalkan ibadah karena temanku bilang angkot ini tidak lewat simpang dago dan waktunya sudah sangat lewat, aku pun langsung turun dari angkot dan menuju gereja. jalanan sudah seperti sungai kecil yang berarus kuat, aku ragu untuk melewatinya. kemudian ada seorang ibu-ibu yang memintaku untuk menyeberang bersama, aku berbagi payung dengannya. saat kami menyeberang bersama bisa kurasakan arus deras air hampir membawaku, untung ibu itu memegangku. sepatu sneakersku kali ini benar-benar dipenuhi air, aku tidak peduli. aku berlari menuju gereja lalu bertemu dengan kakak alumni, namanya kak Lia. kak Lia mengajak untuk masuk bareng, kami ke toilet sebentar untuk rapi-rapi. aku membuka sepatu ku dan mengeringkannya di mesin hand dryer sementara menunggunya selesai. dengan tergesa-gesa kami menaiki tangga dan memasuki ruang ibadah, tentu saja sudah memasuki khotbah, bahkan khotbah sudah hampir selesai. meskipun begitu aku tetap bersyukur, karena aku mendapati diriku masih dengan teguh berjuang melewati hujan dan banjir untuk mengikuti ibadah. aku masih mendapati diri ku mencapai apa yang sudah aku niatkan, aku masih mendapati diriku masih mencintai Tuhan meski situasinya berat #ehLebayding hehe
11.45 ibadah selesai, aku mengeringkan kembali sepatu ku. semua orang yang ku kenal di gereja pun berniat menuju pasar seni. aku berjalan mengikuti kerumunan orang-orang menuju pasar seni. aku menghubungi semua teman-teman dekatku, Oci(Yosi), Sunny, Shella, Frida. tapi tak seorangpun dapat dihubungi. aku tiba di jalan Ganeca tempat pasar seni diadakan. wow. lautan manusia. aku berjalan menyusuri jalan ganeca dengan berdesak-desakan. saat memasuki pasar seni, seorang teman menghubungiku, ternyata nomor Shella yang lain. dia menanyakan keberadaanku, dan menjelaskan keberadaannya. aku berjalan semakin memasuki jalan ganeca, tempat kampus ITB berada, tempat pasar seni diadakan. awalnya aku melihat 3 menara yang dibangun dari potongan kayu yang di susun. setelahnya aku melihat teatrikal, sebentar saja aku sudah meninggalkannya. aku menyusuri lagi, dan mulai melihat seni-seni rupa, seperti lukisan dan patung. melihat lukisan-lukisan itu aku merasa terhipnotis dan sangat bahagia. beberapa kali aku menyentuh ujung jari pada permukaan kanvas, pada permukaan cat, mencoba merasakan lukisan itu, menyatu dengannya, menyelami makna dibalik sapuan kuas sang pelukis. Shella kembali menghubungi, menjelaskan bagaimana cara menuju tempat dimana mereka berada. tenang sobat, aku tidak sedang tersesat, aku melebur bersama seni. kalo boleh jujur, aku tidak mencari cara menemukan mereka hehe maaf aku sedang menikmati apa itu keindahan, dan jiwaku penuh atasnya. kemudian aku melihat lukisan-lukisan raksasa di tengah lapangan, di dalam pagar. aku sangat penasaran dan ingin melihat, namun sayang pintu pagar ditutup dan aku harus lewat jalur masuk yang telah disediakan. aku menuju jalur masuk dengan bersesak-sesakan, ahh ini sudah entah kesekian kalinya dari sejak awal aku masuk jalan ganeca aku hampir saja bersentuhan wajah dengan orang lain yang berjalan berlawanan arah denganku. sebelum tiba di pintu masuk menuju lukisan yang hendak aku tuju, aku melihat beberapa karya seni seperti robot laba-laba, lukisan yah aku sempat melihat-lihat dan menyentuh dan mengambil foto lukisannya, lalu aku melewati booth Tak Kenal Maka Kenalan (tapi tetep gak dapet kenalan heuh), kemudian sangkin gerahnya aku dengan tidak tau malu meminta kipas pada teteh-teteh yang bagi-bagi kupon dan kipas Wardah. aku terus menyusuri jalanan yang becek sisa-sisa hujan, sampai aku melihat patung dinosaurus yang sedari tadi disebut-sebut Shella sebagai tanda dimana mereka berada. Shella kembali menelponku dan menanyakan dimana aku berada. hingga ketika aku semakin mendekat dengan replika T-Rex yang terbuat dari seng bekas itu, mereka, teman-temanku memanggilku. aku mendekati mereka, disana ada Shella, Sunny, Frida + Arum adik kelas kami yang dekat dengan Frida. Oci dimana? Oci sedang berada di galeri bersama teman-temannya. teman-temanku menanyakan apakah aku sudah puas melihat-lihat atau mau pergi melihat-lihat lagi. mereka berkata "cuma gitu doank", tampaknya mereka sudah jenuh atau bahkan tidak tertarik, dan yang pasti mereka lapar. aku bilang "kalo mau makan, sok aja duluan. aku masih pengen liat-liat dulu". aku memasuki galeri, lukisan-lukisan kembali menyita perhatianku. awalnya aku memasuki booth lukisan beraliran naturalis, aku suka melihat bunga-bunga kecil di tengah rimbun dedaunan hutan dalam lukisan itu. juga lukisan lain dimana hanya ada pohon dan cahaya matahari yang mencuri celah untuk masuk. aku memasuki booth berbagai aliran lukisan, aku tidak terlalu mengerti aliran-aliran seni aku hanya suka melukis apa yang aku mau dan aku suka melihat lukisan-lukisan tertentu walaupun aku tak tau nama alirannya apa. aku mengambil foto untuk lukisan-lukisan yang aku suka. sepertinya kalau sering-sering ke galeri aku akan semakin mengenali apa seleraku dan mau ke arah aliran mana lukisanku ku bawa. aku tak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya, perasaan kagum, perasaan bahagia, perasaan yang tercampur dalam makna yang dihadirkan lukisan-lukisan itu, sungguh perasaan unik yang membuatku sangat nyaman. tapi sungguh, demi apapun aku sungguh ingin memakan mereka yang bolak-balik menelponiku, missedcall lebih tepatnya. kemudian aku melihat karya seni rupa, seperti kaca atau botol yang di dalamnya terdapat miniatur benda/manusia ada juga yang berisi miniatur lautan, sungguh aku ingin beli, tapi melihat harganya ahhh yang benar saja :( . aku keluar dari galeri, dan seorang temanku berkata "kamu kenapa mukanya gitu? gak suka yah, gak sesuai ekspektasi yah?" yang lain menimpali "iyah emang cuma gitu doank". dalam hati aku berteriak "APAAN??!!! GUE TU KESEL KARENA DI MISSCALL-MISSCALL GAK JELAS. KALO MAU MAKAN SOK AJA MAKAN. KALO MAU PERGI SOK AJA PERGI". aku tersenyum tipis, "kenapa misscall-misscall?", tanyaku tak bersemangat. "kami tuh takut kamu nyasar". aku tersenyum masam. kemudian Oci datang dengan teman-teman SMAnya. teman-temanku merencanakan makan bersama. dalam hatiku "APAH??!!! INI UDAH GINI DOANK?!! MASIH BANYAK YANG BELUM GUE LIAT!!!". mereka masih bingung ingin makan dimana. "jadi mau makan dimana? kalo udah fix kasih tau aja ya, aku masih banyak yang pengen diliat nanti aku nyusul hehe", kataku tak ingin kehilangan kesempatan. lalu seseorang berkata "serius? kamu bakal beneran nyusul", aku tidak paham maksud perkataannya itu karena sedang kesal semuanya terkesan negatif bagiku. "Agnes belum puas ya?", ini pertanyaan yang sama yang di lontarkan Oci berulang-ulang kali sejak saat itu dan sampai keesokan harinya masih ditanyakan, dan pertanyaan itu sama sekali tidak ku tanggapi pada hari pasar seni itu. Batre HPku habis saat tempat makan belum juga ditentukan, 'ah tidak memungkinkan kalau aku menyusul'. Sunny berkata "nes, kamu beneran gak apa-apa? masih pengen liat-liat lagi? biar kita temenin." "iya nes....", Shella menimpali. sejujurnya aku masih sangat ingin, tapi entah kenapa aku sudah sangat malas, gak mood mungkin lebih tepatnya. ini benar-benar perasaan yang sangat tidak aku sukai, perasaan ingin tapi sudah tak ingin. akhirnya tempat makan sudah diputuskan, kami meninggalkan pasar seni pada pukul setengah 2. yah kira-kira satu jam setengah aku berada di sana namun terasa begitu singkat, kira-kira satu jam setengah itu pula teman-temanku telah menungguiku. mengkhawatirkanku, takut kalau-kalau aku tersesat. takut kalau-kalau aku merasa sendirian di tengah lautan manusia. padahal orang yang mereka tunggu dengan tidak tau dirinya sedang asik menikmati dunianya, mungkin kalau saja semesta tak membawaku menuju lukisan raksasa di tengah lapangan dan membuatku mencari pintu masuknya hingga aku berada di depan replika T-Rex itu dan terlihat oleh mereka, sebenarnya mungkin saja aku tidak akan mencari mereka sampai aku merasa puas. aku tak tau apakah aku memang jahat, atau seni dapat membuat kita menjadi 'jahat', mungkin itu lah mengapa aku tak ingin menyukai pria seniman, karena aku takut dia lebih menikmati dunianya sendiri ketimbang saat bersamaku nantinya. aku menyadari bahwa, mungkin kita sebagai manusia berbeda, kita memiliki selera yang berbeda, aku dan teman-temanku mungkin tak sama dalam hal kesukaan, dalam hal seni, namun bukan berarti kita tak bisa saling memahami. mereka telah mencoba untuk memahamiku, dan sudah sepantasnya aku pun harus memahami bahwa mereka sudah jenuh mereka lapar, mereka sudah menikmati pasar seni lebih dulu saat aku masih di gereja wajar saja jika saat aku datang mereka sudah tak antusias lagi untuk mengeksplorasi. walaupun mungkin aku cukup kesal, tapi setelah menyadarinya aku merasa sangat beruntung memiliki mereka sebagai sahabat-sahabatku :) aku mungkin memang tidak ahli dalam memahami interaksi manusia, aku individualis, tapi secara tak langsung aku telah belajar meninggalkan ke-egoisanku. maka pada akhirnya seperti statement yang diucapkan Sunny dalam seharian itu "manusia adalah seni yang sesungguhnya".